Kamis, 10 November 2011

BUNG TOMO ANGKAT “BAMBU” ANE ANGKAT “PENA”


“Berikan aku 10 Pemuda, maka 10 pemuda tersebut cukup untuk mengguncang dunia”...“Masa depan  suatu negara 20 tahun kedepan ditentukan oleh kondisi pemudanya saat ini”...” Merdeka atau Mati...”

 Kaliamat-kalimat tidak asing  yang selalu hinggap dibenak kita, salah satunya merupakan cuplikan pidato Bung Tomo yang kerap kali diucapkan oleh motivator bahkan guru-guru yang ada di Indonesia ketika membangkitkan euforia patriotisme kepahlawanan.   10 November, tanggal yang sangat dejavu di telinga kalangan masyarakat Indonesia. Tanggal tersebut memiliki makna yang sangat luar biasa bagi bangsa ini, yaitu hari dimana para pahlawan Indonesia terdahulu tertatih  dan letih memperjuangkan Negara kita tercinta dengan gigih. Kisah-kisah heroikpun menjadi salah satu solusi rangkuman seluruh cerita tentang kepahlawanan  negeri ini. Tidak heran jika, Indonesia memiliki pemuda yang memiliki jiwa-jiwa kepahlawan, untuk memperjuangkan hak-haknya saat ini. Hak-hak yang bangkit dari idealisme seorang pemuda, yang tidak ingin di bantah, dan tidak suka dikekang. 

Apakah semua pemuda Indonesia sadar tentang beban yang tersemat  pada tanggal keramat 10 November tersebut? Mengapa pemuda dahulu tidak sama dengan pemuda sekarang? Siapa yang disalahkan? Pemerintah? Jika Pemuda yang salah, apakah mereka sadar akan tulisan ini, atau jika pemerintah yang salah dalam mengurus “pemuda” , apakah tulisan ini perlu dikirimkan kepada para petinggi-petinggi negara kita?  Mengingat  masa lalu tentang sejarah kepahlawanan penuh dengan kesusahan dan ketidaknyamanan. Mulai dari keadaan Pemerintah, masyarakat sekitar, kondisi Alam dan geografis, bahkan masyarakatnya. Dahulu, Negara ini tidak se-“digital” sekarang, semua serba “Analog”,  dulu negara kita diperintah-perintah oleh negara-negara bertuhan  yang tidak jelas, tetapi pemuda-pemuda dulu  pemberani, punya integritas yang tinggi sampai memberikan kontribusi  nyata untuk saat ini. Kontribusi yang diberikan adalah saat dimana kita tidak perlu mengerahkan tenaga hingga pembuluh vena terlihat diantara batang leher. 

Kejenuhan yang melanda setiap orang yang membaca, atau mendengar tentang realita pemuda saat ini. Meneriakkan ketidak sinkronan pemuda dengan tanggung jawab- tanggung jawab yang seharusnya di konkritkan. Tidak akan mampu bahkan sangat tidak mungkin untuk membangkitkan  rasa patriotisme jiwa kepahlawanan yang terdahulu dan  saat ini.

Umumnya Pemuda di Indonesia sekarang, menyukai segala sesuatu yang praktis, tidak suka di kritik tetapi lebih banyak apatis, menggembar gembor keoptimisan yang membuat diri pesimis. mengeksistensikan ideologi yang sangat jauh dari poin-poin kepahlawanan. Tidak semua pemuda, apalagi dikalangan pelajar mau bersusah-susah memacetkan jalan dengan berteriak dan  menunjukkan keeksistensiannya terhadap sesuatu yang diaspirasikan. Di antara yang berteriak pun ada juga yang hanya sekedar berteriak membuang-buang tenaga.  Lalu Pemuda harus bagaimana? Aktif? Optimis?

Semua benar adanya. Setiap pemuda memiliki persepsi tersendiri tentang bagaimana cara berkontribusi untuk negri ini dengan caranya sendiri. Ada dua jenis pengabdian yang dilakukan oleh para pemuda saat ini, kalau tidak eksis di depan umum, ya.. di belakang layar. Kondisi saat ini cenderung kepada pemuda yang eksis di depan umum. Tentu saja tidak salah. Pemuda sebagai alat komunikasi serta perantara dari pemerintah kepada rakyat. Banyak dari kita mencemooh kegiatan yang mengeksiskan diri di depan umum, padahal sebagian dari kitapun tidak sadar bahwa karena kegiatan  mengeksiskan diri itulah,  lembaga yang disindir mulai bergerak menuju perubahan lebih baik.   

Dari segelumit permasalahan yang dialami, merujuk pada sebuah pertanyaan yang menjadi sebuah ambang kesimpulan untuk menyelesaikan persoalan pelik negeri ini. Mungkinkah Pemuda Indonesia Menjadi seorang  Pahlawan? Mendengar atau  membaca kata pemuda saja, mungkin dalam benak masing-masing mengungkapkan tentang keanarkisan , generasi yang masa bodoh, orang-orang yang merasa dihargai, segerombolan orang yang aktif dan apatis, cenderung saling menjelekkan dan pemikiran yang paling luar biasa adalah  sebagai barometer kemajuan bangsa. Sebenarnya banyak sekali solusi yang sudah tersedia dan tinggal dijalankan saja. Salah satunya, seperti yang diungkapkan Menpora Andi Mallarangeng , mengatakan bahwa pemuda saat ini harus menguasai tiga bahasa, yaitu bahasa Indonesia, bahasa asing minimal 1, dan bahasa daerah, syukur-syukur pemuda yang bersekolah, bagaiman nasib yang tidak mengecap lembaga pendidikan sebagai media pengetahuan bahasa? . Atau bahkan, tidak perlu menunggu solusi yang keluar dari mulut petinggi negeri, cukup dengan inisiatif sendiri memajukan negeri ini.

Dalam kacamata islam, sesungguhnya hal seperti ini sangatlah mudah diatasi. Bagaimana tidak, semua permasalahan timbul dari setiap jiwa yang tidak tenang hatinya. Kemudian, berkumpulah hati yang tidak tenang tersebut, sehingga menjadi sebuah masalah besar, dan susah untuk diselesaikan.  Keyakinan yang sudah berurat dan mendarah daging dalam diri ini terkoyak hanya dengan budaya kolonialisme, kapitalisme, dan yang paling terkenal adalah liberalisme, yang sejatinya telah menjajah tanah air ini terdahulu.  Merasuk pada idealisme, kemudaian perlahan mengubah tingkah laku, moral, dan bersikap. Wajar jika semua pandangan tentang pemuda saat ini hanyalah tentang keburukan. Apakah kita harus apatis dengan budaya-budaya yang mempengaruhi kita? Tentu saja tidak. Pemuda merupakan “agent of change” , tetapi agent of change yang diharapkan disini adalah change to the better, bukan change to the worst.  Moral adalah salah satu sasaran perbaikan diri yang paling efektif, karena tanpa moral, pemuda adalah hanya sebuah bola yang menggelinding tanpa arah.  Ketika Moral bersumber dari segala sesuatu yang maha baik, yaitu Allah swt, mengajak yang lain menuju kebaikan pun sangat mudah, walaupun dengan melewati berbagai macam  tantangan.

 Bahkan, Allah swt juga memberikan pembicaraan khusus terhadap pemuda yang diabadikan dalam surat al-Kahfi [18]: 13
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ ءَامَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
Artinya: “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.”
Ada hal yang menarik untuk dicermati dari ungkapan Allah swt dalam ayat di atas, dimana Allah menggunakan kata naba’ untuk menyebutkan cerita sekelompok pemuda penghuni goa (ashhâb al-kahf). Kata naba’ secara harfiyah berarti berita. Di dalam al-Qur’an kata Naba’ biasanya dipakai untuk menyebutkan berita-berita besar yang mengejutkan dan mengandung kehebatan. dalam al-Qur’an, salah satunya Allah swt gunakan untuk menyebutkan cerita sekelompok pemuda penghuni goa, seperti yang disebutkan dalam surat al-Kahfi [18]: 13. Hal itu mengandung sebuah isyarat bahwa pemuda adalah kelompok elit dalam masyarakat yang selalu menciptakan berita-berita besar yang mengejutkan sekaligus mencengangkan. Para pemuda adalah orang yang selalu membuat sensasi dan gebrakan serta perubahan yang menggemparkan. Bahkan, para pemuda adalah kelompok yang selalu ditakuti oleh para penguasa, seperti yang terjadi dengan pemuda penghuni goa (ashhâb al-kahf). 

Perjalanan sejarah bangsa Indonesia telah membuktikan, bahwa betapa pemuda menjadi tonggak penentu perjalanan sejarah bangsa ini. Mulai dari ide nasionalisme yang muncul dari kalangan pemuda dan mereka juga yang mewujudkannya dalam bentuk organisasi kepemudaan yang puncaknya adalah Budi Utomo dan kemudian melahirkan sumpah pemuda. Perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia, merebutnya serta mempertahankanya kembali, adalah dilakukan oleh para pemuda bangsa ini. Tumbangnya rezim orde lama dan orde baru, juga dilakukan oleh para pemuda, begitulah seterusnya bahwa perjalanan suatu bangsa adalah ditentukan oleh para pemudanya. 
Itulah hakikat para pemuda, yang akan selalu menciptakan hal-hal-besar dan mengejutkan. Dan cerita itu akan selalu tercipta sepanjang masa sesuai bentuk pengungkapan Allah swt terhadap kata naqushshu (Kami ceritakan) yang diungkapkan dalam bentuk kata kerja masa kini dan akan datang serta berkelanjutan (fi’l al-mudhâri’). Akan tetapi, jika para pemuda suatu bangsa “diam seribu bahasa” melihat apa yang terjadi pada bangsanya, maka mereka bukanlah pemuda menurut al-Qur’an. Begitu juga, jika pemudanya tidak mampu menciptakan sesuatu yang besar bagi diri, masyarakat, dan bangsanya maka tentu mereka bukanlah pemuda seperti yang dimaksud al-Qur’an. 

Begitu Mulianya Pemuda dalam al-Qur’an, sampai-sampai pemuda sendiri pun lalai akan tugasnya. Sebelum adanya teriakan Bung Tomo, sebelum di kumandangkannya jargon tentang pemuda dan lainnya, sesungguhnya sudah diperintahkan dalam sebuah Al-qur’an tentang seberapa besar pengaruh para pemuda. Jadi siapa yang harusnya disalahkan?  Pemuda atau Pemerintah? Apakah sekarang salah jika sekelompok pemuda turun ke jalan, menciptakan hal-hal besar untuk mengingatkan tugas pokok pemerintah yang sudah terlalaikan? Atau lebih memilih mengangkat pena, dan menuliskan semua aspirasi dan kebenaran ? Jika para pemuda yang bersalah, maka introspeksi dirilah, sangat tidak etis ketika kita menyalahi segala sesuatu disekitar kita yang sejatinya masalah tersebut timbul dari diri kita sendiri, jika Aksi merupakan jalan terbaik  maka beraksilah untuk negeri, ingatkan para orang pikun tentang tugasnya pada negeri ini, dan jika memang dari sebuah coretan pena seharga Rp.1000 lebih membuat setiap jiwa tertohok dengan karya tulis untuk menguak kesadaran setiap kewajiban, maka menulislah. Sehingga penobatan pahlawan untuk para pemuda mendatang bukanlah sebuah bayangan yang tak bisa digapai, akan tetapi dapat disematkan dengan bangga di setiap jiwa pemuda. Menginjak lembaran awal dengan memperbaiki akhlak, moral, serta sikap. Siapapun akan merasa tertarik jika semua sudah di koneksikan dengan sang maha Kuasa. Sang maha pemberi petunjuk.

Transformasi tidak menunggu kata “nanti” untuk menjadi lebih baik. Tulisan  ini pun tidak diperuntukkan untuk pemuda-pemuda pecundang, bermental kerupuk, yang masih terkekeh diatas kursinya. Tulisan ini diperuntukkan untuk pemuda yang memiliki jiwa bergerola tanpa asa, sebagai mujahid bangsa dan agama untuk mengguncang dunia.


SYIAR ISLAM DALAM PERBAIKAN PARADIGMA KEHIDUPAN


Pengamatan secara keseluruhan tentang eksistensi jajaran petinggi negeri, seolah sengaja atau tidak sengaja meredupkan visi misinya demi kemaslahatan rakyat. Loyalitas, serta solidaritas dalam kegiatan yang “di boleh-bolehkan” oleh setiap kelompok masyarakat, terutama kalangan pemuda, menjadi sebuah acuan dan junjungan dalam mencapai keberhasilan duniawi. Dilain hal, begitu besarnya rasa paranoid umat Islam sendiri, yang membatasi diri dengan pengkajian akademik dan ilmiah benuansa Islami. Fakta yang sangat kontras dan begitu signifikan, jika dibandingkan dengan kondisi Islam pada zaman NabiAllah Muhammad  SAW. Sangat banyak yang mengetahui, bahkan mengerti solusi menghadapi masalah seperti diatas, tetapi dengan berbagai macam variasi alasan penundaan, sehingga tertundalah kita dalam mencapai ridha Allah SWT. Menyebarkan sebuah kebesaran, kemuliaan dan keagungan berlandaskan kecintaan kepada sang maha Pencipta, disebut syiar Islam, yang kemudian menyusuri dan seharusnya dijadikan landasan dalam setiap tatanan kehidupan perpolitikan, sosial dan berbudaya ditengah arus globalisasi.
Fenomena jauhnya kondisi umat Muslim saat ini karena terjangkitnya penyakit “Al-wahn”  yaitu suatu penyakit yang cinta dunia dan takut mati, padahal orientasi sesungguhnya dalam kehidupan ini adalah murni untuk sebuah kematian yang Allah ridhai. Dalam artian kita hidup untuk menghidupkan sebuah kehidupan dan hidup untuk bisa bermanfaat bagi insan lainnya. Gejala penyakit tersebut berdampak pada tatanan kehidupan setiap individu  Muslim. Baik dari segi sosial, keuangan, dan keluarga. Terutama dari segi spiritual, yang menjadi otak atau bahkan penunjuk dari segala landasan kegiatan kita. Jika sebuah alat penunjuk arah sudah mulai menunjukkan kerusakan, maka jalan yang ditunjukkan pun akan salah. Begitupun hati nurani, sebagai tempat pemrosesan sebuah niat sehingga di stimulasikan ke otak, kemudian jadilah sebuah tindakan sesuai dengan kehendak pemroses, yaitu hati. Jika hati sudah mulai goyah, maka tindakan yang kita lakukanpun akan goyah pula.
Kondisi yang mengenaskan saat ini, diperparah dengan jauhnya umat Muslim terhadap perintah-perintah Allah, yang dikirimkan menjadi kumpulan-kumpulan surat cinta yang selalu diabaikan, dan bahkan diragukan, yaitu Al-Qur’an , serta Hadits Rasulullah SAW.  Dalam pandangan kacamata sosial, pengaruhnya sangat besar dari media dan teknologi yang secara tidak langsung telah memecah umat Islam, dalam berbagai aspek kehidupan. Selain jauhnya umat Muslim terhadap Qur’anulkarim, juga permasalahan-permasalahan lainnya dalam berdakwah, masalah dalam menghadapi permutadan, serta masalah terhadap sesama Muslim yang kurang perduli terhadap saudaranya, atau dengan kata lain ukhuwah Islamiayah yang belum erat.
Siapa Penyebab semua ini? Kapan terjadinya maslah ini? Mengapa terjadinya masalah ini? Apa kaitannya dengan media dan Teknologi? Dan, bagaimana peran syiar didalamnya?. Penyebab semua ini adalah kita sendiri, ya pelakunya adalah diri Muslim sendiri. Sikap Islamophobia yang kita tanamkan dalam sanubari. Memandang Islam dengan pandangan yang negatif, ajaran yang monolitik, statis, tertutup pada perubahan. Islam dianggap agama yang tidak bernorma, irasional, prokekerasan, ketidakadilan, dan segala kejelekan lainnya. Secara tidak langsung, pandangan non-Muslim terhadap hal-hal tersebut menjadikan Islam merupakan salah satu asas perpolitikan anti-Barat.
Berawal mula dari perang salib yang berlangsung sangat lama, sehingga golongan non-Islam mengetahui bahwa Al-qur’an adalah pedoman hidup para Muslim, maka dari itu mereka gencar dalam menghancurkan dan menjatuhkan umat Muslim. Merupakan hal biasa, jika seorang Muslim meninggalakan kewajiban hanya untuk sesuatu yang tidak jelas, menghabiskan harta untuk yang selain mahramnya atau menghabiskan waktu untuk melakukan hal yang tidak berguna, mengklaim bahwa menyusuri dunia maya merupakan hal yang praktis, menciptakan paradigma-paradigma liberalis dengan segudang alasan yang menguatkan pilihan mereka , dan segala macam hedonisme yang dikaitkan dengan kemaslahatan kesejahteraan kedepan.
Bagi para pemerhati perkembangan Islam, ini merupakan tugas yang sangat berat, dan sangat susah. Mensyiarkan pondasi-pondasi Islam yang telah rapuh, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Bukan berarti kerena sebagian besar rakyat Indonesia adalah seorang Muslim, serta dengan mudahnya kita mengompakkan satu suara, menyeruakkan kalimat takbir, tahmid, dan tahlil. Solusi yang paling efektif adalah, bercermin dahulu pada diri kita sendiri, sudahkah kita memperbaiki alat sistem pemroses kebaikan dan keburukan dalam diri kita? Bagaimana cara yang efektif? Mungkin dengan membiasakan diri dengan Allah sang Maha Pemberi Petunjuk, dengan cara mengkaji Al-qur’an sedikit demi sedikit, kemudian di amalkan dalam diri sendiri, lalu kemudian dapat di sampaikan dan diamalkan kepada orang lain.
Memulai membiasakan diri terhadap suatu kebaikan memang terasa sangat sulit, apalagi hal tersebut diperuntukkan untuk mengajak saudara kita yang lain menuju kebaikan.  Sangat tidak mungkin kita secara langsung mengeluarkan pendapat-pendapat dan dalil-dalil kepada saudara seiman yang belum tahu apapun. Sebagai contoh, menyampaikan nilai hakikat pacaran dalam Islam, tidak serta merta kita melarangnya dengan tegas, melainkan memasuki sistem perasaannya, kemudian menunjukkan secara perlahan ada cinta yang lebih indah dibandingkan dengan cinta yang tidak Allah ridhai.
Kadangkala, yang mengetahui lebih banyak pengetahuan tentang dunia Islam, hanya berkelompok dengan golongannya saja. Secara tidak sadar, pencitraan liberalis yang notabene mengabaikan tindakan saudara-saudarinya, merasuki beberapa golongan Muslim yang membatasi diri mereka untuk jarang berinteraksi dengan Muslim lainnya. Padahal mereka mengerti tentang semua itu, tetapi mereka tidak mau berbagi. Atau bahakan mereka pernah mencoba, tetapi tidak efektif , dan kemudian tekad untuk meluruskan ajaran Islam surut lagi. Sampai menjadi sebuah trend candaan dikalangan pemuda sekarang “golongan yang tidak berpacaran”, atau “golongan yang tidak berjabat tangan”. Kemudian, haruskan ke-2 julukan golongan itu harus berhenti sampai disitu saja? Tentu saja tidak, inilah titik dimana sebuah ujian dimulai. Jika dikoreksi kembali, saat-saat dimana kekuatan dan keikhlasan seorang hamba Allah itu diuji, ketika seorang hamba Allah itu, berada dalam keadaan yang sempit, dan benar-benar dalam keadaan dimana dia harus meminta kepada Allah. Menunjukkan sikap optimis sebaik-baiknya akan membuat orang lain terbawa, merasa bahwa ada sebuah jalan menuju kebaikan.
Tentu dengan koreksi niat, bukan karena eksistensi semata. Semakin susah keadaan sekarang semakin Allah ingin melihat keseriusan kita dalam membina dan memperjuangkan Agama yang paling benar di muka bumi ini. Seorang Muslim haruslah kreatif dalam menyebarkan, dan menanamkan syiar secara langsung dan berkesinambungan. Memasuki sistem yang bisa menghandle atau mencakup secara keseluruhan aktifitas suatu kelompok masyarakat.
Islam tidak hanya mencakup aspek sosial masyarakat untuk menebarkan benih-benih syiar dengan berbagai macam caranya. Dalam perpolitikanpun bisa bahkan harus menjadi sebuah landasan menentukan setiap kegiatan agar adanya keselarasan antara amanah ketatanegaraan sekaligus menjadi sebuah acuan ibadah, karena berasaskan Islam. Bukan berarti harus melakukan Bai’at, atau mengadakan piagam “Indonesia” agar dapat lebih mengIslamkan rakyat Indonesia. Sesuai dengan kondisi sekarang saja, memasuki sistem-sistem yang terfokus pada rakyat, kemudian dapat mengamalkan syiar Islam tersebut.Islam tidak menuntut setiap penganutnya harus menjadi seorang pemimpin, tetapi wajib menjadi orang yang berpengaruh dalam setiap amalnya, untuk mensyiarkan sistematiaka persendian suatu lembaga atau perpolitikan.  MengIslamkan rakyatlah terlebih dahulu kemudian mengIslamkan negara. Minimal, hasil yang diperoleh adalah masing-masing mengetahui panduan hidupnya kelak diakhirat, yaitu Al-qur’an.
Pemuda adalah agen yang sangat berpengaruh pada perkembangan ekonomi maupun perpolitikan di suatu negara.”Tidak usah mengurus urusan negara, biarlah yang korup masuk neraka”, pernyataan yang tidak asing lagi para mahasiswa yang apatis terhadap kemerosotan iman, yang merambah pada kegagalan duniawi.  Majunya suatu negara dapat dilihat dari produktivitas pemudanya. “Berikan aku 10 pemuda, maka 10 pemuda itu yang akan mengguncang dunia” kutipan bung karno saat itu adalah doa yang harus direalisasikan bagi para pemuda. Guncangan yang dilakukan tidak akan pernah dahsyat jika hanya 10 pemuda saja yang mengguncang dunia beserta sendi-sendinya, melainkan dengan saling mengajarkan ilmu, dan dengan tatanan syariat Islam sebagai landasan kehidupan, insyaAllah doa Bung Karno menjadi sebuah kenyataan.
Menjadikan sebuah bibit-bibit pemuda yang berasaskan Islam, baik yang Islam maupun non-Islam sebenarnya sangatlah sederhana. Pada era globalisasi saat ini, memanfaatkan kegiatan yang sedang trend saat ini. Pendekatan melalui pendekatan secara psikologi, ini merupakan yang paling bergengsi, yang sebenarnya penyelesaiannya semua sudah terangkum dalam kitab suci Al-qur’an, dengan segala macam terapan ilmu yang terdapat didalamnya. Menerapkan prinsip-prinsip sederhana dalam Islam, seperti Tidak mudah menyerah, membangun pondasi integritas, mempositifkan pikiran kepada Allah, mengenal karakteristik diri sendiri, dan segala macam ilmu perbaikan yang ada dalam Al-qur’an.
 Cara ini ternyata memang cukup efektif, daerah yang menggunakan metode ini berhasil mencetak keluran-keluaran yang bisa diharapkan. Mempunyai tujuan yang jelas ketika keluarnya. Dengan memotivasi setiap pesrta dapat menjadi pemimpin yang baik, mendapatkan segala sesuatu yang diinginkan. Kitab apa saja yang menjelaskan penjelasan kondisi-kondisi psikologi dengan jelas selain Al-qur’an? Ya, tentu saja tidak ada. Al-qur’an merupakan dasar teori, sumber ilmu dari segala ilmu, dan penerapannya. Secara tidak langsung mereka, para peserta memiliki landasan Islami, yang mengokohkan diri mereka dalam mehadapi sesuatu yang sulit. Pencitraan yang baik, memang melalui sarana komunikasi kepada calon-calon pemimpin masa depan. Sehingga disiplin ilmunya dapat diterapkan dengan menyampaikan kebaikan yang sama yang telah diperoleh.
Syiar merupakan salah satu bentuk jihad, yang merupakan cara berjuang kita menegakkan agama Allah. Banyak cara kita menyampaikan syiar Islam. Dalam berpolitik, misalanya dalam sebuah forum ketata negaraan, dengan memperbaiki semua sistem yang tidak berasaskan Islam. Dalam disiplin sosial misalnya, dengan berdakwah dengan trend masa sekarang, berbisnis, bersosialisasi, untuk mengalihkan dunia para perinteraksi sosial terarah ke jalan yang benar, serta dalam disiplin ilmiah, yang melakukan pendekatan syiar dengan pendekatann psikologis.
Suatu rancangan keberhasilan umat tidak akan pernah berjalan dengan mulus, jika yang mengoperasikan rancangan tersebut tidak ada atau patah semangat. Allah sangat menyukai orang-orang yang berusaha dan sangat menghargai sebuah peroses.  Tidak akan menjadi suatu panutan jika yang memberi panutan sudah kalah di tengah jalan. Ingat! Allah maha baik, bahakan terlalu baik. Allah merupakan zat yang maha Pengasih, dan Pemurah, Dia mengetahui kita mengeluh, maka nikmat itu akan diambil-Nya, bukan berarti Allah pelit, melainkan Ia tak mau melihat kita keteteran dengan semua yang ia bebankan pada kita.
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah “ sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika mau mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu” (QS. Al-Baqoroh ayat 120)
 Sekarang, pertanyaanya adalah, apakah kita pantas mengeluh untuk memperjuangkan agama Allah? Banggakah kita, ketika ilmu itu hanya kita saja yang mengetahuainya? Banggakah kita melihat kondisi saudara dan negara kita di permainkan bagaikan pioner-pioner non-Islam? Masihkah anda berpikir dua kali setelah membaca tulisan ini? Jawabannya bisa di tanyakan pada diri kita masing-masing.

ngutip ^^

Kisah Sahabat